SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat

Senin, 26 Oktober 2026

​Oleh: Rina Ummu Meta

(Pegiat Literasi)



​Insiden tragis kembali terjadi. Seorang siswa SD berinisial M (7) di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia pada 30 September lalu usai menjadi korban bullying oleh kakak kelasnya. Korban mengalami luka parah akibat dipukul dan ditendang di bagian perut setelah dipalak dan diperas oleh pelaku. Sebelum mengembuskan napas terakhir, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem Pemalang ini sempat menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di ICU RSUD Dr. M. Ashari Pemalang. Sementara itu, kedua pelaku yang merupakan kakak kelas korban tidak ditahan karena masih di bawah umur (di bawah 12 tahun). Keduanya ditetapkan sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan dititipkan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) (bbcnews.com, 9/10/2026).


​Tragedi memilukan ini makin memperpanjang deretan kasus kekerasan di kalangan pelajar. Sangat ironis, kekerasan justru terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk menimba ilmu. Berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), sepanjang Januari hingga September 2026 telah terjadi 100 kasus kekerasan di sekolah dengan korban mencapai lebih dari 1.000 anak.


​Maraknya kasus bullying di lembaga pendidikan merupakan alarm keras bagi kita semua. Sungguh memprihatinkan, anak usia sekolah dasar yang masih sangat muda sudah mampu melakukan kekerasan fisik yang berujung pada hilangnya nyawa sesama teman. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa generasi hari ini sedang tidak baik-baik saja.


​Kondisi buruk ini tidak terlepas dari penerapan sistem sekularisme-kapitalis saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini melahirkan kebebasan berperilaku atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Akibatnya, sistem pendidikan yang lahir dari pemahaman ini gagal mencetak generasi berkualitas. Pendidikan saat ini seolah hanya berfokus pada capaian nilai akademik semata, tanpa diimbangi dengan penanaman nilai moral dan agama. Alhasil, para peserta didik makin jauh dari akidah dan akhlak yang luhur.


​Meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan sekolah juga memperlihatkan pengabaian dan ketidakseriusan negara dalam menangani kasus bullying. Padahal, negara bertanggung jawab penuh atas keselamatan jiwa rakyatnya, termasuk saat mereka berada di lingkungan sekolah.

​Rasulullah saw.bersabda:

​"Tidaklah seorang hamba yang Allah beri tanggung jawab memimpin rakyat, kemudian ia mati dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya." (HR. Muslim)


​Hadis di atas memberikan peringatan keras bagi para pemimpin yang menelantarkan dan tidak melindungi hak serta keselamatan rakyatnya. Begitu tegas Islam mengatur dan menuntut pertanggungjawaban seorang pemimpin.


​Berbeda dengan sistem sekuler, sistem Islam menuntut negara untuk menjamin keselamatan jiwa dan kesejahteraan seluruh rakyat secara menyeluruh. Negara akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang terbukti mampu melahirkan generasi bertakwa, tangguh, dan berakhlak mulia.


​Tanggung jawab negara tersebut diwujudkan dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, mencetak tenaga pendidik yang kompeten, serta menyusun kurikulum yang mampu membentuk kepribadian Islam (syaksiyah Islamiyah). Di sisi lain, kontrol masyarakat juga hidup melalui aktivitas amar ma'ruf nahi munkar. Jika terjadi penyimpangan, masyarakat akan dengan sigap melapor dan memastikan aturan ditegakkan. Allah Swt. berfirman:

​"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104)


​Selain itu, negara juga akan memberikan sanksi yang tegas dan berefek jera (ujrubah) kepada pelaku bullying sesuai syariat agar kejadian serupa tidak berulang. Hanya dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah), seluruh problematika kehidupan—termasuk maraknya kasus bullying—dapat teratasi secara tuntas. Sebab, hanya Islam-lah solusi yang hakiki.

​Wallahu a'lam bish-shawab.

​

Oleh: Rina Ummu Meta

Pegiat Literasi



Beberapa pekan terakhir, antrean panjang BBM terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Antrean mengular hingga ke jalan raya dan menyebabkan kemacetan. Tak sedikit warga yang harus mengantre sejak dini hari, meski belum tentu mendapatkan BBM.


Kelangkaan BBM dan antrean panjang di berbagai SPBU pun mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah Kota Makassar bahkan menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring bagi jenjang PAUD/TK, SD, dan SMP pada 13–19 September 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi mobilitas pelajar, orang tua, serta tenaga pendidik, sekaligus menekan kepadatan lalu lintas dan menghemat pasokan BBM sambil menunggu distribusi dari Pertamina kembali normal.


Sementara itu, akibat kelangkaan LPG 3 kg, sejumlah mahasiswa, pengemudi ojek online (ojol), hingga organisasi masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Jalan Garuda, Kota Makassar, pada Senin, 14 September 2026. Mereka menuntut keterbukaan distribusi BBM, pencabutan kebijakan ganjil-genap yang dinilai memperparah antrean, serta meminta General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi dicopot dari jabatannya (IDN Times, 14 September 2026).


Kelangkaan BBM dan LPG tentu sangat meresahkan dan menyusahkan rakyat. Kondisi ini menunjukkan bahwa negara belum optimal dalam menjalankan fungsi riayah, khususnya dalam menjamin kebutuhan energi yang memadai dan mudah diakses masyarakat.


Negara seolah lebih berperan sebagai regulator, sementara rakyat dituntut berjuang sendiri untuk mendapatkan BBM dan LPG. Pemenuhan kebutuhan energi pun kerap ditempatkan dalam paradigma bisnis dan keuntungan. Adapun subsidi energi belum menyelesaikan persoalan secara mendasar. Bahkan, subsidi juga menghadapi persoalan ketepatan sasaran karena masyarakat yang tergolong mampu masih dapat menikmati energi bersubsidi.


SDA Bukan Komoditas Bisnis Semata


Persoalan ini tidak terlepas dari paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA). Ketika pengelolaan SDA diserahkan kepada pengusaha atau swasta, ruang privatisasi terhadap sumber daya yang menyangkut hajat hidup masyarakat menjadi terbuka.


Padahal, dalam Islam, sumber daya yang menjadi kepemilikan umum tidak boleh dikuasai secara bebas oleh individu maupun kelompok tertentu.


Rasulullah saw. bersabda:


“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”

(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)


Hadis tersebut menunjukkan bahwa sumber daya yang dibutuhkan masyarakat luas tidak semestinya dikuasai segelintir pihak. Dalam konteks kekinian, api dapat dipahami sebagai energi yang menjadi kebutuhan publik, termasuk sumber energi dan berbagai turunannya.


Hal ini juga dapat dilihat dari kisah Abyadh bin Hammal. Ia pernah meminta kepada Rasulullah saw. agar diberikan penguasaan atas tambang garam di Ma'rib. Rasulullah saw. sempat memberikan tambang tersebut kepadanya. Namun, setelah seorang sahabat menjelaskan bahwa tambang itu merupakan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat luas, Rasulullah saw. menarik kembali pemberian tersebut.


Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa sumber daya yang melimpah dan dibutuhkan masyarakat tidak semestinya menjadi milik pribadi atau dikuasai segelintir orang.


Sementara itu, ketika pengelolaan SDA berada dalam paradigma kapitalistik, kepentingan ekonomi dan keuntungan dapat menjadi pertimbangan yang dominan. Negara berisiko lebih banyak berperan sebagai regulator, sedangkan pengelolaan sumber daya diserahkan kepada pihak yang memiliki modal.


Akibatnya, kebutuhan dasar rakyat dapat berhadapan dengan kepentingan bisnis.


Kelangkaan Energi Menimbulkan Efek Domino


Kelangkaan BBM dan LPG bukan sekadar persoalan antrean di SPBU atau pangkalan. Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.


BBM dibutuhkan untuk transportasi dan distribusi barang. LPG dibutuhkan rumah tangga, pedagang kecil, hingga pelaku usaha untuk menjalankan aktivitas produksi. Ketika pasokannya terganggu, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat ikut terdampak.


Jika kelangkaan berlangsung dalam waktu lama, persoalan tersebut juga berpotensi menimbulkan efek domino. Biaya transportasi dan produksi dapat meningkat, kemudian mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Pada akhirnya, beban tersebut kembali dirasakan oleh masyarakat.


Karena itu, persoalan energi tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengatur antrean, membatasi mobilitas, atau memberikan subsidi. Diperlukan pengelolaan energi yang mampu menjamin ketersediaan dan keterjangkauannya bagi seluruh rakyat.


Islam Menempatkan Negara sebagai Pengurus Rakyat


Berbeda dengan paradigma kapitalisme, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus kebutuhan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:


“Imam adalah ra'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis tersebut menegaskan bahwa pemimpin bukan sekadar pembuat regulasi, melainkan memiliki tanggung jawab terhadap rakyat yang berada di bawah kepemimpinannya.


Karena itu, negara wajib menjalankan fungsi riayah secara menyeluruh. Kebutuhan energi yang menyangkut hajat hidup masyarakat harus dijamin ketersediaannya, distribusinya, dan kemudahan aksesnya.


Subsidi energi saja tidak cukup. Negara harus memastikan sumber daya alam dikelola sesuai ketentuan syariat dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Dengan pengelolaan SDA yang sesuai syariat, negara dapat membangun kedaulatan energi sekaligus memastikan BBM dan LPG tersedia dengan harga yang terjangkau. Orientasinya bukan semata-mata keuntungan, melainkan pelayanan dan kemaslahatan rakyat.


Inilah gambaran pengurusan rakyat dalam Islam: negara hadir untuk memudahkan, bukan mempersulit; menjamin kebutuhan rakyat, bukan membiarkan mereka berjuang sendiri mendapatkannya.


Penerapan syariat Islam secara kafah membutuhkan sistem yang menerapkannya secara menyeluruh, yakni Khilafah.


Wallahu a'lam bish-shawab.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Oleh: Dwi Jan (Aktivis Randu)




Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Kalimantan. Kepulan kabut asap pekat tidak hanya melumpuhkan mobilitas warga dan mengancam kehidupan satwa endemik, tetapi juga telah melintasi batas negara hingga ke tetangga, Malaysia.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terdapat 1.487 titik panas di kawasan Kalimantan. Kalimantan Tengah mendominasi dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat (560 titik), Kalimantan Selatan (74 titik), Kalimantan Timur (74 titik), dan Kalimantan Utara (3 titik).

Krisis Ekologis di Depan Mata

Dampak di lapangan kian memprihatinkan. Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), petugas dan relawan harus berjibaku memadamkan api yang membakar sekitar 1.317,15 hektare lahan di tengah keterbatasan selang dan minimnya sumber air.

Perjuangan ini memakan korban jiwa dan raga. Rizky Mubarrak, seorang relawan, harus dilarikan ke IGD RSUD dr. Murjani Sampit akibat sesak napas dan kelelahan. Bahkan, kabar duka menyelimuti ketika pejuang garis depan, Aries Sutio Luthfil Hadi, gugur setelah berjuang melawan pekatnya asap karhutla saat menjalankan tugas kemanusiaannya.

Tak hanya manusia, ekosistem dan satwa liar menjadi korban nyata. Lahan gambut yang sejatinya bertindak sebagai penyerap karbon alami dan rumah bagi habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), beruang madu, hingga bekantan, kini berubah menjadi lautan api.

Tragedi ini seolah mengulang rekam jejak kelam karhutla skala besar pada tahun 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019. Kombinasi antara fenomena iklim El Niño, kerusakan ekosistem gambut, serta kelalaian dan ketamakan manusia dalam pembukaan lahan secara membakar kembali memicu bencana ekologis ini.

Kerusakan Lingkungan: Saat Amanah Diabaikan

Bagi seorang muslim, bencana karhutla bukan sekadar persoalan ekologis atau kerugian ekonomi musiman. Bencana ini adalah cermin retak dari sejauh mana manusia menjalankan amanah keagamaan.

Dalam pandangan Islam Kaffah (utuh dan menyeluruh), manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai khalifah (pengelola dan pemelihara) di muka bumi. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam karya beliau, Islam Agama Ramah Lingkungan, menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari hifzh ad-din (menjaga agama).

Tindakan merusak, mencemari, atau mengeksploitasi bumi tanpa batas adalah bentuk cederanya amanah kekhalifahan dan merusak prinsip keberagamaan yang benar.

Allah SWT secara tegas melarang segala bentuk pengrusakan di muka bumi:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A’raf: 56)

Bumi Bukan Milik Manusia Secara Mutlak

Kerusakan alam acap kali bersumber dari kesombongan manusia yang merasa memiliki dan menguasai bumi secara mutlak. Padahal, Al-Qur'an secara eksplisit mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Allah SWT:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan." (QS. Az-Zumar: 10)

Pemanfaatan hasil alam dibolehkan dalam Islam, namun bukan untuk dieksploitasi secara serakah. Setiap jengkal pohon yang terbakar dan setiap makhluk hidup yang musnah akibat ulah tangan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Allah SWT juga mengingatkan balasan bagi mereka yang berbuat kerusakan dan menyombongkan diri:

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qasas: 83)

Merawat Bumi sebagai Wujud Ihsan

Kebakaran hutan di Kalimantan harus menjadi momentum evaluasi nasional—baik bagi pemangku kebijakan, korporasi, maupun masyarakat luas. Penanganan karhutla tidak boleh hanya berhenti pada tindakan reaktif pemadaman api di lapangan, tetapi harus menyasar akar masalah: penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, pemulihan ekosistem gambut, dan penghentian eksplorasi yang merusak.

Islam mengajarkan prinsip ihsan (berbuat baik secara optimal). Nilai ini tidak hanya berlaku dalam hubungan antarmanusia (hablum minannas), melainkan juga dalam interaksi kita dengan alam (hablum minal 'alam).

Menjaga hutan dari kobaran api, mencegah kerusakan lingkungan, dan merawat kelestarian bumi adalah ikhtiar nyata dalam menjalankan perintah agama. Bumi bukan warisan tanpa batas yang bisa diperlakukan sekehendak hati, melainkan amanah suci yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Pemilik Hakiki.
Berikut adalah penyempurnaan artikel opini Anda yang disesuaikan dengan gaya penulisan media digital, berkarakter Islam Kaffah, runtut, kontekstual dengan data faktual terbaru (2026), serta siap untuk dipublikasikan (ready-to-publish).

Asap Karhutla Kalimantan dan Refleksi Amanah Menjaga Bumi

Oleh: Dwi Jan (Aktivis Randu)

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Kalimantan. Kepulan kabut asap pekat tidak hanya melumpuhkan mobilitas warga dan mengancam kehidupan satwa endemik, tetapi juga telah melintasi batas negara hingga ke tetangga, Malaysia.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terdapat 1.487 titik panas di kawasan Kalimantan. Kalimantan Tengah mendominasi dengan 767 titik, disusul Kalimantan Barat (560 titik), Kalimantan Selatan (74 titik), Kalimantan Timur (74 titik), dan Kalimantan Utara (3 titik).

Krisis Ekologis di Depan Mata

Dampak di lapangan kian memprihatinkan. Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), petugas dan relawan harus berjibaku memadamkan api yang membakar sekitar 1.317,15 hektare lahan di tengah keterbatasan selang dan minimnya sumber air.

Perjuangan ini memakan korban jiwa dan raga. Rizky Mubarrak, seorang relawan, harus dilarikan ke IGD RSUD dr. Murjani Sampit akibat sesak napas dan kelelahan. Bahkan, kabar duka menyelimuti ketika pejuang garis depan, Aries Sutio Luthfil Hadi, gugur setelah berjuang melawan pekatnya asap karhutla saat menjalankan tugas kemanusiaannya.

Tak hanya manusia, ekosistem dan satwa liar menjadi korban nyata. Lahan gambut yang sejatinya bertindak sebagai penyerap karbon alami dan rumah bagi habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), beruang madu, hingga bekantan, kini berubah menjadi lautan api.

Tragedi ini seolah mengulang rekam jejak kelam karhutla skala besar pada tahun 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019. Kombinasi antara fenomena iklim El Niño, kerusakan ekosistem gambut, serta kelalaian dan ketamakan manusia dalam pembukaan lahan secara membakar kembali memicu bencana ekologis ini.

Kerusakan Lingkungan: Saat Amanah Diabaikan

Bagi seorang muslim, bencana karhutla bukan sekadar persoalan ekologis atau kerugian ekonomi musiman. Bencana ini adalah cermin retak dari sejauh mana manusia menjalankan amanah keagamaan.

Dalam pandangan Islam Kaffah (utuh dan menyeluruh), manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai khalifah (pengelola dan pemelihara) di muka bumi. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam karya beliau, Islam Agama Ramah Lingkungan, menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari hifzh ad-din (menjaga agama).

Tindakan merusak, mencemari, atau mengeksploitasi bumi tanpa batas adalah bentuk cederanya amanah kekhalifahan dan merusak prinsip keberagamaan yang benar.

Allah SWT secara tegas melarang segala bentuk pengrusakan di muka bumi:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A’raf: 56)

Bumi Bukan Milik Manusia Secara Mutlak

Kerusakan alam acap kali bersumber dari kesombongan manusia yang merasa memiliki dan menguasai bumi secara mutlak. Padahal, Al-Qur'an secara eksplisit mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Allah SWT:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan." (QS. Az-Zumar: 10)

Pemanfaatan hasil alam dibolehkan dalam Islam, namun bukan untuk dieksploitasi secara serakah. Setiap jengkal pohon yang terbakar dan setiap makhluk hidup yang musnah akibat ulah tangan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta.

Allah SWT juga mengingatkan balasan bagi mereka yang berbuat kerusakan dan menyombongkan diri:

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Qasas: 83)

Merawat Bumi sebagai Wujud Ihsan

Kebakaran hutan di Kalimantan harus menjadi momentum evaluasi nasional—baik bagi pemangku kebijakan, korporasi, maupun masyarakat luas. Penanganan karhutla tidak boleh hanya berhenti pada tindakan reaktif pemadaman api di lapangan, tetapi harus menyasar akar masalah: penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, pemulihan ekosistem gambut, dan penghentian eksplorasi yang merusak.

Islam mengajarkan prinsip ihsan (berbuat baik secara optimal). Nilai ini tidak hanya berlaku dalam hubungan antarmanusia (hablum minannas), melainkan juga dalam interaksi kita dengan alam (hablum minal 'alam).

Menjaga hutan dari kobaran api, mencegah kerusakan lingkungan, dan merawat kelestarian bumi adalah ikhtiar nyata dalam menjalankan perintah agama. Bumi bukan warisan tanpa batas yang bisa diperlakukan sekehendak hati, melainkan amanah suci yang kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Pemilik Hakiki.


Rabu, 14 Oktober 2026

Oleh: Arimbi NU (Mompreneur)




Kecerdasan buatan atau _Artificial Intelligence_ (AI) berkembang semakin pesat. Kehadirannya menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari membantu pekerjaan manusia, mempercepat penelitian medis, hingga mendukung pengambilan keputusan di berbagai bidang. Namun, di balik manfaat tersebut, tersimpan ancaman tersembunyi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Pada September 2026, para peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton yang dikenal sebagai salah satu pelopor AI modern, kembali memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan ledakan kecerdasan ( _intelligence explosion_ ), yaitu percepatan kemampuan AI yang berpotensi terjadi ketika AI mampu membantu mengembangkan kecerdasan AI itu sendiri (cnnindonesia.com, 20/09/2026)

Kekhawatiran terhadap AI juga mencakup ancaman keamanan siber. DetikInet mengulas potensi agen-agen AI yang dapat berkolaborasi, mengeksploitasi celah keamanan, mencuri data, hingga mengganggu sistem digital. Meski skenario AI mengambil alih seluruh internet belum dapat dipastikan, potensi penyalahgunaan teknologi ini tetap perlu diantisipasi.


Di sisi lain, perkembangan AI juga menimbulkan tantangan bagi pemerintah. Metro TV melaporkan bahwa laju perkembangan teknologi AI berpotensi melampaui kemampuan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang memadai. Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan regulasi dalam mengantisipasi risiko teknologi yang terus berkembang. 


AI bukanlah teknologi yang sepenuhnya baik atau buruk. Seperti pedang bermata dua, persoalan mendasarnya terletak pada siapa yang mengembangkan, untuk kepentingan apa teknologi itu digunakan, serta nilai apa yang menjadi dasar pengembangannya.


AI dapat membantu menemukan obat dan menyelamatkan nyawa. Namun, teknologi serupa juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan serangan siber, menyebarkan kebohongan, dan mengembangkan senjata yang mengancam kehidupan manusia.


Bahkan, ketika keputusan penting semakin diserahkan kepada mesin, manusia berisiko kehilangan kendali sekaligus tanggung jawab atas akibatnya.


Di sinilah persoalan AI melampaui urusan teknis. Kemampuan menciptakan teknologi tidak otomatis berarti manusia mampu mengendalikan seluruh dampaknya. Kecerdasan tanpa kebijaksanaan justru dapat memperbesar kehancuran.


Islam memandang bahwa akal merupakan karunia Allah Swt. yang harus digunakan untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Akal bukanlah otoritas mutlak untuk menentukan benar dan salah berdasarkan kepentingan manusia semata. Ia harus dibimbing oleh wahyu.


Ketika kemajuan hanya diukur berdasarkan keuntungan, kekuasaan, dan dominasi, teknologi berpotensi menjadi instrumen penjajahan dan kerusakan.


Sebaliknya, ketika kemajuan diarahkan untuk kemaslahatan sesuai hukum Allah, teknologi dapat menjadi sarana kebaikan.


Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar, seberapa cerdas AI ke depan? Melainkan, siapa yang menentukan arah kecerdasannya, dan berdasarkan standar apa arah itu ditetapkan?


Islam tidak mengharuskan manusia menolak kemajuan teknologi. Islam justru mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatannya untuk kemaslahatan manusia.


Namun, kemajuan harus berjalan sesuai koridor akidah dan syariat.

Dalam Islam, perlu dibedakan antara hadarah, yakni sekumpulan pemikiran dan konsep kehidupan yang lahir dari suatu pandangan hidup, dan madaniyah, yakni bentuk-bentuk material hasil kemajuan manusia.


AI sebagai teknologi merupakan hasil kecerdasan dan kreativitas manusia. Akan tetapi, tujuan pengembangannya, nilai yang ditanamkan, data yang dipilih, serta keputusan yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh pemikiran dan ideologi tertentu.


Karena itu, teknologi tidak cukup hanya dinilai dari kecanggihannya. Pemanfaatannya juga harus dinilai berdasarkan syariat, apakah membawa kemaslahatan yang dibenarkan, atau justru menghasilkan kezaliman dan kerusakan?


Individu yang beriman harus menggunakan AI dengan kesadaran bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Sementara itu, masyarakat dan negara tidak boleh menyerahkan arah perkembangan teknologi hanya kepada kepentingan pasar atau persaingan geopolitik. Pengembangan, penggunaan, dan pengawasan AI harus diarahkan untuk melindungi jiwa, akal, harta, kehormatan, dan kehidupan manusia sesuai syariat.

Lebih dari itu, dibutuhkan sistem kehidupan yang menjadikan wahyu sebagai landasan pengaturan, bukan sekadar menjadikan agama sebagai nasihat moral di tengah sistem yang berjalan dengan standar lain. Sebab, aturan teknis dan pengawasan memang diperlukan, tetapi keduanya harus berpijak pada pandangan yang benar tentang tujuan hidup manusia dan batas-batas yang tidak boleh dilanggar.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat, manusialah yang mengarahkan dan sistem kehidupanlah yang menentukan batas penggunaannya. 


Jika kecerdasan dibiarkan tumbuh tanpa kendali nilai yang benar, kemajuan justru dapat menjadi jalan menuju kehancuran. Islam menawarkan landasan akidah dan pedoman syariat untuk mengarahkan kemajuan tersebut.


Maka, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan lagi apakah manusia mampu menciptakan kecerdasan yang melampaui dirinya, melainkan apakah manusia bersedia tunduk kepada aturan Allah yang menciptakannya?


Sebab, ketika manusia merasa cukup dengan kecerdasannya sendiri, siapa yang menjamin bahwa kecerdasan itu tidak akan menghancurkannya?

Jika manusia membutuhkan aturan untuk mengendalikan ciptaannya, bukankah ia lebih membutuhkan aturan dari Sang Pencipta yang paling mengetahui hakikat manusia dan seluruh akibat perbuatannya?


Kemajuan tanpa petunjuk Allah bisa menjadi ancaman. Kecanggihan tanpa syariat bisa menjadi kehancuran. Maka, jika keselamatan manusia adalah tujuan, mengapa kita masih ragu menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan?

Kamis, 08 Oktober 2026

 

Oleh: Anizah

(Penulis)





Kasus kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah kembali menelan korban jiwa. Peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa SD berusia 7 tahun di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang meninggal dunia diduga akibat kekerasan oleh kakak kelasnya. (Kompas.com 4/10/2026)

Menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menimba ilmu dan membentuk karakter justru berubah menjadi ancaman keselamatan jiwa. Ketika aksi perundungan berujung pada hilangnya nyawa, tindakan ini tidak bisa lagi dipandang hanya sekadar kenakalan anak, melainkan sudah masuk ke ranah tindak pidana serius.


​Maraknya kekerasan yang melibatkan pelaku di bawah umur mencerminkan krisis moral dan mental yang mendalam. Fenomena ini tidak lepas dari arah sistem pendidikan dalamp tatanan kehidupan sekuler kapitalisme, yang cenderung memisahkan agama dari kehidupan, mengangungkan kebebasan. Suatu keniscayan di sistem ini berbagai tindak kejahatan tumbuh subur dan merajalela. Kapitalisme adalah sistem yang rusak dan akan melahirkan generas yang rusak pula, Al hasil anak- anak bebas melakukan apapun yang mereka suka, yang penting mereka senang tanpa memperdulikan apa yang mereka perbuat salah atau benar. Dalam sistem ini fokus pendidikan kerap bergeser pada pencapaian akademis dan kesiapan kerja, sementara pembentukan kepribadian, empati, dan pemahaman nilai kebaikan kurang mendapat porsi yang seimbang. Kebebasan berperilaku tanpa kontrol nilai yang kuat, ditambah konsumsi media digital yang minim filter, turut membentuk pola pikir anak yang makin minim rasa empati.

​Di sisi lain, kontrol sosial di masyarakat yang makin memudar, akibat pergeseran ke arah individualisme membuat tindakan perundungan kerap terlambat dideteksi. Penanganan hukum terhadap pelaku anak pun kerap berada pada posisi dilematis: di satu sisi perlu mempertimbangkan hak anak, namun di sisi lain belum sepenuhnya mampu memberikan efek jera maupun pemulihan mendasar bagi korban dan pelaku. Apalagi jika pelakunya dibawah umur, maka hanya dibina dan dinasehati dan jika pelakunya mempunyai uang maka akan terbebas dari jerat hukum, karena hukum di sistem ini bisa diperjual belikan dan tak membuat jera pelakunya.


​Untuk menyelesaikan persoalan ini sampai ke akar, dibutuhkan pendekatan sistemik berbasis nilai-nilai Islam yang menyeluruh yaitu diantaranya:


​Sistem Pendidikan Berbasis Karakter dan Akidah: 

Dalam Islam pendidikan tidak sekadar mengejar angka, tetapi diarahkan untuk membentuk pola pikir (fikriyyah) dan pola sikap (sulukiyyah) yang berlandaskan pemahaman nilai agama. Anak dididik untuk memahami tanggung jawab moral serta menjadikan standar baik-buruk dan halal-haram sebagai panduan dalam berperilaku.


​Penguatan Kontrol Sosial Masyarakat:

Budaya amar ma'ruf nahi mungkar—saling peduli, mengingatkan, dan menjaga kebaikan di lingkungan sekitar—harus dihidupkan kembali agar kontrol sosial berjalan efektif dan perundungan dapat dicegah sejak dini.


​Peran Negara dalam

Perlindungan Media: Negara hadir secara aktif dalam menyaring tayangan, hiburan, dan konten media digital yang berpotensi merusak moral anak, serta menyediakan tontonan yang edukatif dan menguatkan karakter generasi muda agar lebih bertaqwa.


​Sistem Penegakan Hukum yang Adil dan Mengedukasi: Dalam Islam penerapan hukum berfungsi sebagai penebus (jawabir) sekaligus pencegahan (jawazir). Untuk anak di bawah umur yang belum baligh jika melakukan tindak kriminal, maka tidak dijatuhi hudud atau qisas, tapi buka berarti bebas melainkan akan dikenai ta'zir, yaitu hukuman yang bersifat mendidik dan membina agar dia jera. Disinilah orang tua diminta untuk memperhatikan dan mengawal anak-anaknya, serta membingbing lebih intensif, karena orang tua  yang menjadi madarasah pertama untuk  membentuk karakter.


Maka hanya dengan Islam persoalan bullying bisa teratasi sampai ke akaranya.

 

Oleh: Sendy Novita, S.Pd., M.M.

(Praktisi Pendidik dan Penulis)



Kasus korupsi kembali muncul di berita tanah air. Hal ini seolah sudah menjadi hal biasa dan sulit dihindari. Seperti yang terjadi di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) baru-baru ini. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan pada 14 September 2026 di kawasan Jabodetabek. Operasi ini terkait dugaan korupsi dalam pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor. Sehari setelahnya, KPK menetapkan delapan orang sebagai tersangka (Antara News Jambi).


Dari 19 orang yang diamankan, delapan ditetapkan sebagai tersangka. Empat di antaranya disebut KPK sebagai orang yang diduga merupakan orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid. Dalam pemberitaan yang sama, KPK juga menyebut ada barang bukti uang tunai senilai Rp106 miliar (hukumonline.com).


Menariknya, OTT di sektor pertanahan justru punya tingkat korupsi yang tinggi. Sebelumnya, KPK sudah menemukan beberapa titik rawan lewat kajian Direktorat Pencegahan dan Monitoring. Beberapa di antaranya adalah akses ke layanan yang rendah, penyelesaian layanan yang tidak tepat waktu, tambahan biaya layanan, berkas yang sudah selesai tapi belum diserahkan, pengawasan penerbitan sertifikat, penyimpangan SOP penerbitan HGU, belum ada pemetaan sertifikat HGU, dan minimnya pengawasan pada penerbitan HGU (Antara News Jambi). Sekitar 73,49% layanan pertanahan di kantor pertanahan kawasan Jabodetabek selesai tidak tepat waktu. Di Depok angkanya 91,14%, di Bekasi 87,5%, dan di Bogor 86,9%. Selain itu, biaya layanan bisa lebih tinggi sampai 200% dari biaya resminya.


Dari fakta tersebut, kita tahu bahwa peluang terjadinya penyalahgunaan kewenangan memang besar. Selain prosedur yang panjang dalam layanan publik dengan aset bernilai tinggi, informasi tidak sepenuhnya terbuka. Ada juga ruang diskresi yang besar, atau kebebasan dan kewenangan pejabat pemerintahan untuk mengambil keputusan dan tindakan dalam situasi tertentu ketika aturan memberikan pilihan. Hal ini terjadi karena belum ada aturan yang lengkap, sehingga persoalan perlu diselesaikan secara konkret.


Kenapa tanah juga jadi lahan yang cukup menarik untuk dikorupsi? Karena tanah punya ciri ekonomi yang unik. Setiap tahun, kebutuhan tanah terus naik. Wilayah tanah yang strategis juga terbatas. Belum lagi soal pembangunan, kawasan industri, pusat perdagangan, infrastruktur, dan investasi. Hal ini membuat tanah jadi sangat sensitif. Kewenangan birokrasi yang terbuka lebar menambah kerentanannya. Akibatnya, tercipta ruang rawan untuk konflik kepentingan. Kadang, ini bisa melahirkan mafia tanah. Mafia tanah adalah jaringan yang diduga bisa menghubungkan kepentingan bisnis, perantara, dan oknum birokrasi untuk memanipulasi atau memperjualbelikan proses pertanahan. 


Hal ini tentu saja merusak moral individu, juga situasi dan prosedur, serta kepercayaan publik. Sebagai pejabat tentu harus jujur, punya integritas tinggi, dan menolak suap. Namun, hal itu ternyata tidak pernah cukup dalam sistem yang memberi peluang besar untuk memperjualbelikan kewenangan. Individu bisa diganti, tetapi jika aturan yang berlaku masih sama, maka kemungkinan hal ini akan terus terulang. 


Karena tanah punya nilai ekonomi yang tinggi, pihak yang punya banyak modal tentu lebih mampu menguasai tanah yang strategis. Dengan begitu, mereka bisa terus menambah aset. Dalam pengumpulan modal, aset tidak hanya dimiliki, tapi juga bisa dipakai untuk menghasilkan keuntungan baru. Dalam ekonomi kapitalis, hal ini membuat penguasaan tanah jatuh ke tangan kelompok atau individu bermodal besar. Hal ini juga membuka peluang lebih besar untuk perampasan hak, manipulasi administrasi, konflik agraria, dan penumpukan kekayaan. 


Dalam kitab An-Nidhom al Iqtishadi fi al Islam yang ditulis oleh Taqiyuddin an-Nabhani, kepemilikan adalah izin syariat kepada manusia untuk memakai harta dengan cara yang ditetapkan syariat. Kepemilikan tidak dibiarkan menjadi kebebasan penuh bagi manusia. Beliau membagi kepemilikan menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Ini menunjukkan bahwa tidak semua harta boleh dimiliki dan dikuasai dengan cara yang sama. 


Islam memang membolehkan kepemilikan individu, tetapi harus dengan cara yang dibolehkan oleh syariat. Ini berarti, dalam hal kepemilikan, tidak berarti seseorang bebas memperoleh dan mengembangkan harta dengan cara apa saja. Di sisi lain, kepemilikan umum melarang harta tersebut dimiliki oleh individu tertentu. Harta ini diperuntukkan bagi masyarakat dan harus dinikmati untuk kepentingan bersama. Konsep ini penting dalam pembahasan tanah dan sumber daya. Jadi, tidak semua sumber daya alam bisa diperlakukan bebas atau dikuasai oleh beberapa orang saja. Dalam Islam, ada hubungan antara kepemilikan dan produktivitas. Jadi, tanah tidak boleh hanya dikumpulkan tanpa batas untuk spekulasi. Tanah harus digunakan. 


Selain itu, dalam Islam jabatan adalah amanah. Pejabat bukan hanya profesional yang punya kemampuan teknis. Mereka juga harus sadar sepenuhnya bahwa amanah yang dipikul akan dipertanggungjawabkan. Sistem yang menjadi dasar juga penting. Integritas lahir dari pengawasan eksternal, selain juga muncul dari kesadaran moral orang yang memegang jabatan. 


Sehingga tindak pelanggaran bisa dikenai ta’zir, yaitu sanksi yang bentuk dan kadarnya ditentukan oleh penguasa sesuai jenis pelanggaran dan manfaatnya bagi masyarakat. Dalam kasus korupsi, prinsip ini membuat negara bisa memberi hukuman yang tegas. Hal ini juga bisa mencegah penyalahgunaan kekuasaan.


Dengan demikian, pemberantasan korupsi membutuhkan dua sisi sekaligus. Pertama, pembentukan manusia yang bertakwa. Kedua, sistem hukum yang mampu memberikan sanksi tegas. Satu-satunya sistem yang mampu memberikan perlindungan tersebut tentu saja sistem yang dibuat oleh pencipta alam semesta, yaitu Allah SWT. Wallahu alam.

Oleh: Dewi Jafar Sidik

Ibu Rumah Tangga





​Kasus perundungan (bullying) terus terjadi, tindakannya kian brutal, dan pelakunya makin belia. Praktik ini kerap berulang di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Bagaikan lingkaran setan, kasus serupa terus bermunculan dari waktu ke waktu, viral di media sosial, tetapi tidak pernah benar-benar terselesaikan.


​Salah satu peristiwa nyata adalah dugaan penganiayaan berat yang menimpa tiga santri di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tragedi yang terjadi pada November 2025 ini baru terungkap ke publik tujuh bulan kemudian, tepatnya awal Juni 2026, setelah rekaman video kondisi korban, SAH (13), viral di Facebook (kompas.com, 5/6/2026). Peristiwa tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kasus bullying yang layaknya fenomena gunung es—hal yang tampak di permukaan jauh lebih kecil daripada masalah besar yang tersembunyi di bawahnya.


​Kondisi ini diperkuat oleh data Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang mencatat 24 persen murid di Indonesia mengaku mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara peserta Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang sebesar 20 persen (kompas.com, 13/9/2026).


​Temuan di atas tentu sangat mengiris hati dan mendorong berbagai pihak untuk segera mencari pemecahannya. Pemerintah pun telah berupaya mencegah perundungan melalui penguatan regulasi di satuan pendidikan, program pencegahan terpadu, dan penyediaan kanal pengaduan resmi. Sayangnya, berbagai langkah tersebut belum membuahkan hasil. Bullying justru makin merajalela—baik di sekolah umum maupun pondok pesantren—dan dilakukan oleh teman sebaya yang seharusnya saling mengasihi. Berulangnya kasus ini memicu pertanyaan besar: Mengapa bullying begitu sulit diputus padahal menyangkut masa depan dan keselamatan generasi bangsa?

​Memang benar bahwa pola asuh yang keliru, kesibukan orang tua, ketidakpedulian masyarakat, serta kemudahan akses informasi di internet turut memicu maraknya perundungan. Namun, faktor-faktor tersebut hanyalah dampak luar. Akar masalah sebenarnya terletak pada penerapan sistem kehidupan yang berlandaskan sekuler-kapitalisme.


​Asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah mengikis nilai-nilai moral. Akibatnya, lahir paham liberalisme yang mengagungkan kebebasan bertingkah laku hingga aturan agama diabaikan. Lembaga sekolah yang berpatokan pada kurikulum sekuler-kapitalis pun gagal membentuk karakter anak, sementara kebijakan penguasa yang minim nilai agama kian memperkeruh keadaan. Jadi, penyebab bullying bukan sebatas kesalahan individu atau keluarga, melainkan manifestasi dari sistem yang rusak dari akarnya.

​Oleh karena itu, sistem yang merusak ini sudah sepantasnya ditinggalkan dan diganti dengan sistem kehidupan yang berasaskan wahyu Allah Swt., yaitu sistem Islam. Berbeda dengan sekuler-kapitalisme, Islam memiliki akidah sebagai fondasi dan aturan yang paripurna. Islam menegaskan bahwa melindungi anak dari perundungan bukan hanya tugas keluarga atau masyarakat, melainkan tanggung jawab besar negara.

​Upaya pencegahan dan penanganan bullying dalam sistem Islam dijalankan melalui tiga pilar utama:


​Ketakwaan Individu dan Keluarga: Ketakwaan menjadi benteng utama yang mendorong setiap orang berperilaku terpuji dan terikat pada hukum syarak, serta mengarahkan keluarga untuk menerapkan aturan Islam di rumah.

​Kontrol Masyarakat: Pembudayaan amar makruf nahi mungkar serta ketidakpedulian terhadap kejahatan akan memastikan lingkungan tempat tinggal tetap kondusif dan mencegah potensi tindak pidana sejak dini.


​Peran Negara: Negara wajib menerapkan aturan Islam secara komprehensif, mulai dari menyelenggarakan pendidikan gratis berkarakter akidah Islam, menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi para ayah agar para ibu bisa fokus mendidik anak, hingga menyaring tayangan media dan memberikan sanksi tegas bagi para pelaku kejahatan.


​Melalui penerapan aturan Islam secara kafah, negara bertindak sebagai pelindung sejati bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw.:

​"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya... Imam (kepala negara/pemerintah) yang memimpin manusia adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus." (HR. Bukhari dan Muslim).


​Pada akhirnya, berulangnya kasus bullying yang kian brutal menjadi bukti nyata kegagalan sistem sekuler-kapitalisme dalam membentuk generasi berakhlak mulia. Satu-satunya solusi tuntas untuk memutus rantai perundungan adalah kembali pada sistem Islam yang mengharuskan kerja sama harmonis antara keluarga, masyarakat, dan negara. Tanpa perubahan mendasar pada akar masalahnya, kasus-kasus serupa akan terus bermunculan dengan motif yang kian beragam. Wallahualam bissawab.

Categories

Labels

Bullying Mengancam Generasi, Islam Solusi Hakiki

​Oleh: Rina Ummu Meta (Pegiat Literasi) ​Insiden tragis kembali terjadi. Seorang siswa SD berinisial M (7) di Pemalang, Jawa Tengah, meningg...

Popular Posts