SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat
Tampilkan postingan dengan label Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaza. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2025

Oleh: Rati Suharjo

(Pegiat Literasi)


Derita Gaza terus membayangi dunia. Bebaskan saudara kita dari penindasan dan blokade yang tak berujung (Sumber foto: Hatem Ali/CNN Indonesia)


Selama berpuluh-puluh tahun tanah Gaza telah ternoda darah. Namun, Gaza tetap berdiri tegar di tengah penderitaan yang tiada henti. Penduduknya hidup dalam bayang-bayang penindasan, tercekik oleh blokade, dan terus diteror dentuman senjata.


Di tengah derita itu, gelombang kecaman internasional semakin menguat. Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Volker Turk, pada Jumat (8/8/2025) di Jenewa mengecam rencana Israel untuk sepenuhnya mengambil alih Jalur Gaza secara militer. Ia menegaskan, langkah tersebut harus segera dihentikan karena bertentangan dengan keputusan Mahkamah Internasional yang memerintahkan Israel mengakhiri pendudukan, demi mewujudkan solusi dua negara serta menjamin hak rakyat Palestina menentukan nasibnya sendiri. (beritasatu.com, 8/8/2025)


Kritik serupa datang dari Kementerian Luar Negeri Turki yang menyebut rencana itu sebagai bagian dari tindakan genosida yang dijalankan pemerintahan Netanyahu. Turki memperingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mengancam perdamaian dan keamanan global.


Indonesia pun menyuarakan penolakan keras. Pemerintah menilai langkah sepihak Israel untuk menguasai Gaza merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Tindakan ini dinilai semakin menghambat upaya perdamaian di Timur Tengah sekaligus memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. (bbc.com, 9/8/2025)


Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan Fox News (Kamis, 8/8/2025), menyatakan Israel berencana mengambil kendali militer penuh atas Gaza. Ia menegaskan tidak akan menguasai Gaza secara langsung, melainkan hanya membangun zona keamanan sebelum menyerahkannya kepada pihak Arab. (cnbcindonesia, 8/8/2025)


Namun, pernyataan itu bertolak belakang dengan kenyataan. Selama hampir dua tahun terakhir, operasi militer Israel justru semakin menyudutkan warga Gaza hingga ke tepi pantai. Mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan: banjir lumpur saat hujan, minim air bersih, serta kehidupan yang serba terhimpit.


Ucapan Netanyahu sejatinya tak lebih dari siasat licik untuk membius opini publik seolah Israel tidak berniat menguasai Gaza. Kenyataannya, bukti sudah terpampang jelas di hadapan dunia. Kata-kata Netanyahu hanyalah kedok kosong yang menutupi fakta kelam: Israel telah menumpahkan darah rakyat Gaza tanpa henti selama 75 tahun—sebuah tragedi kemanusiaan yang terus berulang tanpa belas kasih.


Umat Islam harus membuka mata dan hati, bahwa Gaza bukan sekadar wilayah jauh di sana. Gaza adalah bagian dari kita, darah daging kita. Luka mereka adalah luka kita, air mata mereka adalah air mata kita.


Rasulullah saw. telah bersabda:

"Perumpamaan orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut terjaga dan merasakan panas (kesakitan)." (HR. Muslim )


Maka, jika ada di antara kita yang diam, berpangku tangan, atau pura-pura tidak peduli terhadap penderitaan Gaza, itu sama saja dengan membiarkan bagian dari tubuh kita hancur tanpa perlawanan. Sudah saatnya kita bangkit, menggenggam kembali kehormatan, dan berdiri bersama Gaza hingga penjajahan ini sirna selamanya.


Namun, kebangkitan umat Islam hari ini tersandera oleh paham-paham sesat seperti demokrasi dan nasionalisme, yang menempatkan kedaulatan manusia di atas hukum Allah Swt. Ide-ide ini membuat umat mengutamakan batas negara dan kepentingan politik di atas persaudaraan iman, hingga membutakan mereka terhadap jeritan saudara seakidah di negeri lain. Akibatnya, lahirlah sikap acuh, perpecahan, dan hilangnya kekuatan persatuan yang seharusnya menjadi benteng umat.


Tragedi Gaza adalah bukti nyata luka umat Islam yang belum terobati. Derita rakyatnya tidak akan sirna hanya dengan kecaman, doa, atau sekadar bantuan kemanusiaan. Gaza membutuhkan kemerdekaan yang hakiki, agar setiap warganya dapat menunaikan ibadah tanpa rasa takut, serta hidup terhormat sebagaimana bangsa-bangsa merdeka di muka bumi.


Sejarah membuktikan bahwa pembebasan Palestina hanya mungkin terwujud melalui persatuan umat Islam. Khalifah Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayyubi telah memberikan teladan, bahwa kekuatan yang bersatu di bawah satu kepemimpinan mampu mengusir penjajah. Selama umat masih terbelah oleh batas-batas nasionalisme dan menjadikan demokrasi sebagai jalan utama, cita-cita itu hanya akan menjadi angan-angan.


Persatuan yang hakiki hanya bisa diraih dengan adanya seorang khalifah, yakni pemimpin seluruh umat Islam yang akan menggerakkan kekuatan militer untuk berjihad fi sabilillah membebaskan Gaza dari cengkeraman penjajah. Namun sebelum sampai pada tahap itu, umat Islam perlu menyatukan hati dan langkah melalui dakwah berjamaah, mengikis perbedaan yang memecah belah, serta membangun kekuatan bersama.


Penderitaan Gaza tidak akan berlangsung selamanya jika ada penguasa yang sungguh-sungguh bertekad membebaskannya. Setelah puluhan tahun terbelenggu penjajahan, maka sudah saatnya kemerdekaan itu diserukan demi mengembalikan kebebasan yang hakiki. Persatuan umat di bawah naungan khilafah adalah jalan menuju pembebasan Gaza dan Palestina.

Wallāhualam bisshawab.

Jumat, 25 Juli 2025

Oleh: Neneng 

(Komunitas Ibu Peduli Generasi)




Gaza Kembali Berdarah

Situasi di Gaza saat ini masih diselimuti duka dan sangat memprihatinkan. Dikutip dari CNBC Indonesia, jumlah korban tewas warga Palestina di Jalur Gaza telah mencapai 56.412 orang, dengan 133.054 orang lainnya terluka, sejak agresi militer Israel terhadap Hamas meletus pada 7 Oktober 2023. Data ini disampaikan oleh otoritas kesehatan Gaza pada Sabtu, 28 Juni 2025.

Dalam 24 jam terakhir, serangan Israel telah merenggut 81 nyawa warga Palestina dan menyebabkan 422 orang lainnya terluka. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak, dan warga sipil tak berdosa. Lebih dari 92% rumah hancur dan rata dengan tanah.

Pengkhianatan Para Penguasa Muslim

Meskipun situasi Gaza sudah sedemikian memprihatinkan, para penguasa muslim memilih untuk diam. Bahkan hingga terjadi perang Iran dengan Israel pada Juni 2025, tak satupun penguasa muslim tergerak untuk benar-benar serius menolong Gaza.

Banyak pihak berharap para penguasa muslim akan bersatu melawan Israel yang selama ini menindas rakyat Palestina. Sayangnya, mereka justru sibuk membuat kesepakatan normalisasi hubungan dengan Zionis melalui Perjanjian Abraham 2020. Yang lebih menyedihkan lagi, mereka malah menyambut gencatan senjata yang dimediasi AS pada 24 Juni 2025 tanpa melihat agresi Israel terhadap Palestina atau Iran.

Solusi Dua Negara: Solusi Palsu yang Membodohi Umat

Beberapa negara, termasuk Indonesia, bahkan mendorong solusi dua negara sebagai jalan damai. Ini adalah bentuk pembodohan terhadap umat. Solusi dua negara sudah lama dijadikan narasi untuk melanggengkan penjajahan Zionis atas tanah Palestina.

Faktanya, sampai kapan pun Zionis tidak akan pernah menerima kemerdekaan Palestina. Begitu juga dengan Palestina, tidak akan mungkin memberikan sejenggal tanah pun kepada penjajah. Mereka tidak mungkin mengkhianati Perjanjian Umayyah dan pengorbanan para syuhada yang telah mempertahankan tanah Palestina dengan darah dan nyawa mereka. Artinya, pembantaian akan terus terjadi dan perlawanan pun tak akan pernah surut.

Khilafah: Solusi Hakiki bagi Palestina

Umat Islam harus yakin bahwa solusi bagi Gaza dan Palestina adalah dengan tegaknya Khilafah yang akan mengomandoi jihad, bukan solusi dua negara yang dinarasikan sejak dulu. Oleh karena itu, umat harus sadar bahwa hanya dengan Khilafah-lah Palestina akan terbebas dari segala bentuk penjajahan dan pembantaian.

Pembantaian di Gaza harus menjadi momen terbitnya fajar kebangkitan umat Islam. Berharap pada solusi Barat justru akan menjauhkan dari solusi hakiki penjajahan Palestina. Khilafah sebagai warisan Nabi Muhammad Saw. terbukti telah menjadi penjaga dan pelindung bagi umat serta membawa umat kepada perubahan hakiki dan kebangkitan hakiki.

Wallahualam bissawab.



Categories

Labels

Krisis Murid SD Negeri: Ketika Orang Tua Mencari Benteng Penyelamat Generasi

  Oleh: Azizah (Penulis dan Aktivis Blora) Fenomena minimnya murid baru di sejumlah sekolah dasar negeri menjadi sorotan di berbagai daerah....

Popular Posts