SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat

Kamis, 13 November 2025


Oleh Rati Suharjo 

(Pengamat Kebijakan Publik)




Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 agar seorang mukmin tidak merendahkan mukmin lainnya. Namun, realitas saat ini menunjukkan perintah itu kian diabaikan. Fenomena perundungan atau bullying justru tumbuh subur di lingkungan pelajar, bahkan menjadi hal yang dianggap lumrah dan “candaan biasa”.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, kasus perundungan di kalangan pelajar terus meningkat setiap tahun, baik di dunia nyata maupun ruang digital.

Ironisnya, sebagian besar kasus ini bermula dari gurauan yang dianggap sepele, namun berakhir dengan luka batin mendalam, trauma berat, bahkan tindak kriminal.

Korban Menjadi Pelaku: Dampak Fatal Bullying

Bullying bukan sekadar kenakalan remaja. Ia adalah tekanan sosial yang menumpuk hingga meledak menjadi luka sosial dan kejahatan baru.

Contohnya, kasus di Aceh Besar, di mana seorang santri ditetapkan sebagai tersangka setelah membakar asrama pondok pesantren karena sakit hati kerap menjadi korban bullying oleh teman-temannya (beritasatu.com, 8/11/2025).

Kasus serupa terjadi di Jakarta Utara; seorang siswa SMAN 72 menduga pelaku ledakan di sekolahnya merupakan korban bullying yang ingin membalas perlakuan buruk teman-temannya (kumparan.com, 7/11/2025).

Korban yang terus-menerus diejek, dilecehkan, dan dikucilkan sering kali terjerumus dalam stres, depresi, bahkan dorongan bunuh diri. Pada titik tertentu, sebagian memilih melampiaskan rasa sakit itu dengan tindakan membahayakan orang lain.

Maka, bullying bukan hanya persoalan moral individu, tetapi kegagalan sistemik dalam membentuk manusia berakhlak.

Akar Masalah: Kegagalan Sistem Pendidikan Sekularisme

Sistem pendidikan saat ini—yang dibangun di atas nilai-nilai individualisme dan materialisme—turut memperparah keadaan.

Pendidikan modern lebih menekankan capaian akademik, status sosial, dan kekayaan, daripada pembentukan karakter dan akhlak. Ditambah dengan pengaruh media sosial yang menilai kesuksesan dari popularitas dan penampilan fisik, bukan dari budi pekerti dan integritas.

Akibatnya, lahirlah generasi yang kehilangan empati dan menjadikan ejekan sebagai hiburan.

Inilah bukti nyata kegagalan sistem pendidikan sekularisme, yang memisahkan nilai-nilai agama dari proses pembentukan karakter. Padahal, pendidikan seharusnya membentuk manusia berkepribadian Islam—memiliki pola pikir dan pola sikap yang dilandasi akidah Islam, sehingga melahirkan akhlak mulia dalam kehidupan sosial.

Islam Mengharamkan Kezaliman dan Perundungan

Islam menilai bullying sebagai bentuk kezaliman yang dilarang keras. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka dari segala penjuru.” (QS. Al-Kahf: 29)

Solusinya, pembentukan karakter tidak cukup diserahkan pada individu semata, tetapi memerlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara.

Solusi Integral: Sinergi Keluarga, Masyarakat, dan Negara

Keluarga sebagai madrasah ula (sekolah pertama) harus menanamkan nilai ukhuwah Islamiyah—bahwa sesama muslim bersaudara, tidak boleh saling menghina, menghujat, atau mempermalukan.

Masyarakat harus menegakkan budaya amar makruf nahi mungkar, saling menasihati, dan menegur jika terjadi kezaliman atau kekerasan sosial.

Negara wajib membentuk sistem pendidikan berbasis akhlak Islam, bukan sekadar akademik. Negara juga harus menegakkan hukum yang adil berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan hukum buatan manusia yang lemah dan sering kali tidak memberi efek jera.

Namun semua ini hanya akan tegak dalam sistem Islam kaffah, bukan dalam sistem demokrasi kapitalistik yang menuhankan kebebasan tanpa batas. Dalam naungan Daulah Islamiyah, pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi beriman, bertakwa, dan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT, bukan sekadar mengejar prestasi duniawi.

Wallahu a’lam bish-shawab.


0 comments:

Posting Komentar

Categories

Labels

Cinta Ditolak, Amarah Bertindak: Potret Buram Generasi dalam Dekapan Kapitalisme

Oleh: Anizah (Penulis Kota Blora) Di era digital yang serba canggih, kita justru menyaksikan fenomena ironis, kemajuan teknologi tidak berba...

Popular Posts