Oleh: Arimbi
(Pemerhati Remaja)
Era digital bukan lagi pilihan, ia adalah keniscayaan. Media sosial menjelma ruang hidup kedua bagi generasi hari ini, terutama Gen Z. Banyak kemudahan lahir dari sana, akses belajar dan peluang berekspresi yang luas. Namun, bersamaan dengan itu, pengaruh buruk juga datang tanpa permisi, krisis mental, kebingungan identitas, hingga pergeseran nilai yang kian jauh dari agama.
Gen Z sering dicap sebagai generasi rapuh, mudah cemas, sensitif, dan cepat lelah secara emosional. Di sisi lain, Gen Z justru menunjukkan potensi besar sebagai generasi kritis. Mereka berani bersuara, peka terhadap isu sosial, dan mampu mempelopori perubahan melalui media digital. Aktivisme tidak lagi harus turun ke jalan, satu unggahan, satu tagar, bisa mengguncang opini publik. Pertanyaannya, perubahan ke arah mana?
Hegemoni Paradigma Sekuler-Kapitalistik
Di sinilah problem utama era digital bermula. Ruang digital tidaklah netral. Ia dibangun dan didominasi oleh nilai-nilai sekuler-kapitalistik. Algoritma tidak bekerja untuk kebenaran, tapi untuk engagement. Yang viral bukan yang paling benar, tapi yang paling menarik, kontroversial, atau menguntungkan. Nilai baik dan buruk direduksi menjadi soal “like” dan “views”. Dalam ekosistem semacam ini, kesadaran Gen Z sedang dibentuk perlahan tapi pasti.
Gen Z pun tumbuh dengan nilai yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi cepat, visual, instan. Pergerakan mereka cenderung pragmatis, reaktif, dan sering kali mencari validasi. Tidak jarang, semangat perubahan terjebak di permukaan, tanpa akar ideologis yang kokoh.
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Jika tidak ada upaya serius, kita sedang menyaksikan generasi yang aktif bergerak, tetapi kehilangan arah. Maka, tugas besar kita hari ini adalah menyelamatkan generasi dari hegemoni ruang digital yang sekuler-kapitalistik, bukan dengan memusuhi teknologi, tetapi dengan membongkar paradigma di baliknya.
Masalah utamanya bukan pada gadget atau media sosial, melainkan pada cara berpikir. Selama paradigma berpikir sekuler menjadi fondasi yang memisahkan agama dari kehidupan maka aktivisme Gen Z akan terus bergerak tanpa kompas. Karena itu, yang harus diubah adalah paradigma berpikir dari sekuler menuju paradigma Islam.
Mengubah Paradigma dan Sinergi Aktor
Paradigma Islam memandang hidup sebagai ibadah, kebenaran sebagai sesuatu yang absolut dari Allah, dan perubahan sebagai amanah, bukan sekadar tren. Dengan paradigma ini, Gen Z tidak hanya kritis, tapi juga terarah. Tidak hanya berani bersuara, tapi tahu untuk apa dan demi siapa. Aktivisme tidak berhenti pada tuntutan moral atau emosional, tetapi naik kelas menjadi solusi sistemis dan ideologis.
Pergerakan Gen Z harus diarahkan untuk menjawab akar masalah umat dan masyarakat. Isu keadilan, lingkungan, pendidikan, atau kemiskinan tidak cukup diselesaikan dengan kampanye viral. Ia membutuhkan kerangka berpikir Islam yang utuh yang memandang masalah secara struktural dan menawarkan solusi berdasarkan syariat.
Tentu, ini bukan tugas Gen Z semata. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menanamkan nilai dan akidah sejak dini. Masyarakat menciptakan ekosistem yang sehat dan beradab. Negara wajib hadir sebagai pelindung generasi, bukan justru menjadi fasilitator nilai-nilai sekuler.
Arah Pergerakan Generasi
Gen Z adalah generasi yang sedang diperebutkan, memegang potensi besar sebagai agen perubahan yang mampu memanfaatkan kecanggihan digital. Namun, potensi ini terancam oleh dominasi nilai sekuler-kapitalistik dalam ruang digital, yang membuat pergerakan mereka rentan kehilangan arah, terjebak pada pragmatisme, dan validasi permukaan (like dan views).
Kunci utama untuk menyelamatkan potensi Gen Z bukan terletak pada pembatasan teknologi, melainkan pada perubahan paradigma berpikir dari sekuler menuju Islam. Hanya dengan paradigma Islam—yang menjadikan hidup sebagai ibadah dan kebenaran sebagai absolut—aktivisme Gen Z dapat "naik kelas" dari sekadar tuntutan moral menjadi solusi sistemis dan ideologis, menjawab akar masalah umat.
Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah Gen Z akan bergerak, tetapi siapa yang mengarahkan, dan dengan paradigma apa mereka bergerak? Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara dalam menanamkan akidah dan menciptakan ekosistem beradab adalah keniscayaan agar Gen Z menjadi agen perubahan hakiki, bukan bumerang yang merusak diri sendiri dan umat.


0 comments:
Posting Komentar