SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat

Kamis, 18 Desember 2025

 

Oleh: Sendy Novita, S.Pd, M.M 

(Praktisi Pendidik)





Ruang digital saat ini dipenuhi dengan tawaran cepat dan mudah, mulai dari judul-judul clickbait yang memikat hingga pinjaman online (pinjol) yang dijanjikan cair hanya dalam hitungan menit. Rendahnya ekonomi kaum muda membuat mereka menjadi target empuk strategi pemasaran platform digital tersebut dimana algoritma bekerja bukan untuk keselamatan pengguna, tetapi untuk engagement dan profit.


Penelitian menunjukkan 58 persen Gen Z menggunakan pinjol untuk gaya hidup dan hiburan, bukan kebutuhan produktif, yang mencerminkan perubahan pola konsumsi digital di kalangan generasi muda.( KOMPAS.com). Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pinjaman online didominasi oleh kelompok usia 19–34 tahun, dengan total outstanding pinjol mencapai puluhan triliun rupiah, dan jumlah rekening peminjam di usia muda sangat tinggi ( GoodStats ). Kondisi ini diperparah dengan makin banyaknya iklan judol dan tawaran kredit instan di ruang digital yang dikonsumsi generasi dengan ekonomi terbatas, memperlihatkan bagaimana fenomena ini telah menjadi perangkap sistemik. 


Akar Masalah Paradigma Sekuler dan Kapitalis


Himpitan ekonomi dan jalan pintas spekulatif, menjadi faktor dalam hal ini. Sistem ekonomi kapitalistik yang tidak menjamin pemerataan kesejahteraan memaksa sebagian anak muda mencari jalan pintas seperti pinjol dan judol untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup atau sekadar menutup biaya konsumtif. Sistem ini membentuk mental generasi yang mengutamakan instan, bukan keberkahan.


Ditambah gagalnya negara dalam melindungi Generasi. Dimana negara dengan orientasi sekuler cenderung menempatkan nilai material di atas pembinaan karakter. Pendidikan formal yang lebih menekankan efisiensi ekonomi daripada pembentukan etika dan moral membuat generasi mudah terjerumus dalam tindakan spekulatif berisiko tinggi.


Apalagi perubahan jaman yang merujuk pada digital sebuah platform sebagai pasar, bukan pelindung. Kita memahami bahwa algoritma digital yang mengendalikan konten lebih mendahulukan kebiasaan pengguna demi profit perusahaan daripada keselamatan mereka. Tawaran pinjol dan judul provokatif diproduksi sebagai komoditas pasar, bukan sebagai ruang yang mendidik atau melindungi.


Dalam Islam, sistem ekonomi bukan sekadar kompetisi bebas tapi berdasar prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama (maslahah). Semua aktivitas ekonomi dipandu syariah untuk melarang riba, spekulasi berlebihan, dan ekses konsumtif semata.


Allah SWT berfirman "Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275). Prinsip ini membentuk masyarakat yang menabung, berproduksi, dan saling tolong-menolong, bukan berutang untuk memenuhi gaya hidup tanpa batas apalagi hutang tersebut mengandung bunga atau ribA. Apalagi pendidikan dalam Islam, mampu membentuk kepribadian. Islam mengajarkan umatnya menyandarkan tindakan pada halal dan haram, bukan sekadar manfaat dan materi. Ketika generasi dibina dengan nilai taqwa, mereka akan menghindari jebakan pinjaman konsumtif dan perilaku konsumtif yang merusak.


Rasulullah ﷺ bersabda “Hendaklah kalian saling memaafkan, saling memberi, jangan saling mencela dan saling membenci…” (HR. Muslim). Ini menegaskan pentingnya karakter kuat dan empati, bukan ego konsumtif yang mendorong pinjaman demi gaya hidup.


Dalam model pemerintahan Islam kaffah, regulasi digital harus dibangun di atas maqasid syariah yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Ini berarti platform digital tidak menjadi ajang eksploitasi generasi, tetapi ruang aman yang menyediakan konten edukatif, literasi keuangan berbasis syariah, serta perlindungan dari konten merusak dan kriminalitas digital. Generasi Muslim harus memahami identitasnya sebagai umat yang dibina untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis akan membantu mereka dalam menanamkan kesadaran bahwa hidup bukan sekadar konsumsi. Menjadi pelaku aktif perubahan, bukan objek konsumerisme digital. Dan menolak tawaran instan yang merusak masa depan.


Fenomena judul clickbait dan pinjol bukan hanya persoalan individu, tetapi perangkap sistemik akibat sekularisme dan kapitalisme digital yang mengeksploitasi generasi. Islam menawarkan solusi menyeluruh: sistem ekonomi yang adil, pendidikan karakter, pengaturan digital yang melindungi, dan pembinaan umat yang kuat secara mental dan spiritual. Hanya dengan kembali pada fondasi Islam, generasi kita dapat bangkit menjadi pemimpin peradaban, bukan korban zaman. Wallahu 'alam.

0 comments:

Posting Komentar

Categories

Labels

​Bencana Berlalu, Anak Yatim Piatu Tertinggal

  ​Oleh: Anita Novianti (Penulis Kota Blora) ​Bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra tidak hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi ...

Popular Posts