SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat

Rabu, 31 Desember 2025

 


Oleh: Rati Suharjo

Penulis Artikel Islami di Era Digital



Bonus demografi sering dielu-elukan sebagai modal besar menuju Indonesia Emas 2045. Narasi optimistis ini seolah memberi harapan bahwa melimpahnya penduduk usia produktif akan otomatis mengantarkan negeri pada kemajuan. Namun, benarkah demikian? Jika menilik kondisi generasi hari ini, optimisme tersebut justru terasa rapuh.


Alih-alih menjadi kekuatan, realitas generasi saat ini menunjukkan tanda-tanda krisis yang serius. Krisis akhlak remaja kian nyata. Kekerasan terhadap anak meningkat, pornografi digital semakin mudah diakses, penyalahgunaan narkoba meluas, dan adab sosial terus memudar. Ini bukan sekadar deretan problem moral, melainkan sinyal kuat bahwa ada yang keliru dalam cara generasi dibina dan dilindungi.


Situasi ini kian diperparah oleh pesatnya perkembangan teknologi. Gawai kini menyatu dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Memberikan gadget untuk meredam tangis atau tantrum bahkan dianggap solusi praktis. Padahal, ketenangan itu semu. Di balik layar, ancaman terhadap kesehatan fisik, mental, dan pembentukan karakter anak mengintai—sebuah harga mahal yang kerap diabaikan demi kepraktisan sesaat.


Akibatnya, anak dan remaja tumbuh dalam kepungan arus digital yang nyaris tanpa filter. Waktu berjam-jam dihabiskan untuk scrolling tanpa tujuan, bermain gim, dan mengonsumsi konten hiburan minim nilai. Fakta bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 5–6 jam per hari di depan ponsel seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak.


Ironisnya, kondisi ini jauh lebih parah di kalangan anak-anak. Deputi Pemenuhan Hak Anak (PHA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Pribudiarta Nur Sitepu, menyoroti lamanya waktu penggunaan gawai di kalangan anak Indonesia. Berdasarkan data terkini, anak-anak di bawah 17 tahun—khususnya remaja—menghabiskan waktu hingga sekitar 11 jam per hari untuk beraktivitas dengan gawai (nuonline.or.id, 28-10-2025). Fakta ini menegaskan bahwa persoalan generasi bukan soal kuantitas penduduk usia produktif, melainkan kualitas akhlak, arah hidup, dan sistem pembinaan yang menaunginya.


Sayangnya, akar persoalan sering kali disederhanakan. Kerusakan negeri ini kerap ditimpakan pada moral individu para pemimpin. Padahal, problem sesungguhnya jauh lebih mendasar. Sistem demokrasi kapitalisme yang berlandaskan sekularisme telah gagal melindungi generasi. Sistem ini menjadikan nilai materi dan kebebasan tanpa batas sebagai orientasi utama, sementara pembinaan akhlak dan penjagaan nilai diserahkan pada tanggung jawab individual.


Konsekuensinya pun nyata. Korupsi terus berulang, kemiskinan dan pengangguran tak kunjung terselesaikan, serta kerusakan sosial kian mengakar. Dalam sistem seperti ini, generasi hanya dipandang sebagai sumber tenaga kerja dan pasar potensial, bukan sebagai amanah yang wajib dijaga dan dibina.


Di sinilah urgensi dakwah dan sinergi umat menemukan maknanya. Generasi perlu disadarkan bahwa kapitalisme-sekularisme merupakan akar dari berbagai kerusakan. Perubahan tidak cukup dilakukan secara parsial. Tidak cukup hanya mengandalkan peran orang tua, sekolah, atau komunitas tertentu. Generasi memerlukan pembinaan yang serempak, menyeluruh, dan searah.

Keluarga memang madrasah pertama, tetapi keluarga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

 

Negara wajib menjamin kesejahteraan, menyediakan pendidikan berbasis akidah, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pengasuhan Islami. Masyarakat pun harus berfungsi sebagai pengontrol sosial melalui amar makruf nahi mungkar yang ditopang kebijakan dan hukum, bukan sekadar seruan moral tanpa kekuatan.


Lebih dari itu, negara harus hadir sebagai raa’in dan junnah—pengurus sekaligus pelindung. Negara menetapkan standar nilai yang jelas, menutup pintu kerusakan, memblokir konten haram secara cepat dan permanen, serta memastikan pendidikan membentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Tanpa peran negara, sinergi umat akan selalu timpang.


Allah Swt. menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). 


Ayat ini tidak bisa dipahami sebatas nasihat individual, tetapi meniscayakan adanya sistem penjagaan. Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). 


Ini menjadi dasar kuat bahwa tanggung jawab pembinaan generasi bersifat struktural. Tanpa sinergi umat yang terwujud dalam sistem hidup yang sahih, generasi tangguh hanya akan menjadi slogan. Khilafah menghadirkan sinergi nyata—menyatukan keluarga, masyarakat, dan negara dalam satu visi peradaban Islam. Di sanalah generasi bertakwa dan tangguh tidak lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

0 comments:

Posting Komentar

Categories

Labels

​Bencana Berlalu, Anak Yatim Piatu Tertinggal

  ​Oleh: Anita Novianti (Penulis Kota Blora) ​Bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra tidak hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi ...

Popular Posts