SELAMAT DATANG DI RAGAM FORMULA

BERITA DARI RAGAM FORMULA

media berita dan edukasi terpercaya yang menginspirasi dan mencerdaskan umat

Kamis, 18 Desember 2025

Oleh: Sendy Novita, S.Pd., M.M

(Praktisi Pendidik)





Ruang digital hari ini bukan sekadar sarana informasi, melainkan medan pembentukan pola pikir generasi. Berbagai media nasional kerap menyoroti fenomena rapuhnya kesehatan mental generasi muda. Pemberitaan tentang meningkatnya kasus depresi, kecemasan berlebih, krisis identitas, hingga bunuh diri pada remaja dan usia produktif menjadi alarm serius. Dalam berbagai media maupun laporan lembaga kesehatan menunjukkan bahwa generasi hari ini hidup di tengah tekanan sosial yang masif yaitu tuntutan sukses materi, standar kebahagiaan semu, dan validasi berbasis popularitas.


Fakta ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari sistem yang membingkai kehidupan dengan cara pandang sekuler yang memisahkan agama dari pengaturan hidup, serta kapitalistik yang menjadikan materi dan keuntungan sebagai tujuan utama. Dalam sistem ini, nilai diri manusia diukur dari capaian ekonomi, gaya hidup, dan pengakuan sosial. Akibatnya, generasi muda tumbuh dengan mental yang mudah rapuh: takut gagal, cemas tertinggal, dan kehilangan makna hidup ketika standar duniawi tak tercapai.


Pola Pikir Sekuler dan Kerapuhan Mental Generasi


Pola pikir sekuler membentuk cara pandang bahwa kebahagiaan bersumber dari pemuasan keinginan materi dan kebebasan tanpa batas. Agama direduksi menjadi urusan privat, bukan pedoman hidup. Inilah yang membuat generasi kehilangan jangkar nilai. Ketika hidup hanya berorientasi pada aku, sukses dalam versi dunia dan kesenangan maka kegagalan kecil saja akan mampu mengguncang mental dan membuat terguncang.


Kapitalisme memperparah kondisi ini dengan kompetisi tanpa empati. Media sosial menjadi etalase kesuksesan semu seperti flexing, gaya hidup hedonis, dan pencitraan instan. Generasi dipaksa membandingkan hidupnya dengan narasi yang tak utuh. Akhirnya, lahirlah generasi yang mudah lelah secara mental, miskin daya juang, dan cepat putus asa.


Islam dan Penguatan Mental Generasi Pejuang


Berbeda dengan sistem sekuler, Islam membangun mental generasi di atas akidah yang kokoh. Islam menanamkan bahwa hidup memiliki tujuan besar: beribadah kepada Allah dan membawa kebaikan bagi manusia. Ukuran keberhasilan bukan sekadar materi, tetapi ketakwaan, kebermanfaatan, dan keistiqamahan dalam kebenaran.


Islam melatih generasi untuk tangguh melalui konsep sabar, tawakal, jihad dan bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran. Inilah yang melahirkan generasi bermental pejuang, bukan generasi manja. Sejak dini, generasi Islam dibentuk untuk siap menghadapi perubahan zaman.


Sejarah Islam mencatat bagaimana pemuda mampu menjadi agen perubahan besar di tengah kerasnya zaman jahiliyah. Seperti Ali bin Abi Thalib r.a, yang masuk Islam di usia belia dan berani mempertaruhkan nyawanya menggantikan Rasulullah ï·º di tempat tidur saat hijrah. Mus’ab bin Umair r.a, pemuda bangsawan Quraisy yang meninggalkan kemewahan demi dakwah, hingga menjadi duta Islam pertama ke Madinah. Usamah bin Zaid r.a.**, dipercaya Rasulullah ï·º memimpin pasukan di usia sekitar 18 tahun. Atau Abdullah bin Mas’ud r.a, pemuda lemah secara fisik namun kokoh iman, berani membacakan Al-Qur’an di hadapan pembesar Quraisy.


Mereka hidup di masa transisi besar dari jahiliyah menuju Islam—masa yang penuh tekanan, ancaman, dan perubahan nilai. Namun, akidah Islam menjadikan mereka pribadi yang kuat mental, visioner, dan berani.


Rapuhnya mental generasi hari ini bukan semata persoalan individu, melainkan buah dari sistem sekuler-kapitalistik yang menyingkirkan nilai ilahiah. Jika generasi terus dibesarkan tanpa landasan iman dan tujuan hidup yang benar, maka krisis mental akan terus berulang.


Islam menawarkan solusi fundamental: membangun generasi yang beriman, berilmu, dan bermental pejuang. Generasi yang tidak hanya mampu bertahan di tengah gempuran zaman, tetapi juga memimpin perubahan. Inilah saatnya mengembalikan Islam sebagai fondasi pembentukan mental generasi, agar lahir pemuda-pemudi tangguh yang siap menjadi cahaya di tengah gelapnya arus pemikiran sekuler global. Wallahu'alam.

0 comments:

Posting Komentar

Categories

Labels

Cinta Ditolak, Amarah Bertindak: Potret Buram Generasi dalam Dekapan Kapitalisme

Oleh: Anizah (Penulis Kota Blora) Di era digital yang serba canggih, kita justru menyaksikan fenomena ironis, kemajuan teknologi tidak berba...

Popular Posts