Oleh:Thini
(Aktivis Blora)
Dunia kriminalitas Indonesia kembali diguncang oleh berita memilukan dari Lahat, Sumatera Selatan. Seorang pemuda berusia 23 tahun tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri hanya demi memuaskan kecanduan judi online (judol).
Terbongkarnya peristiwa tersebut diawali saat korban menghilang tanpa kabar sekitar satu pekan yg menyebabkan kerabatnya menduga-duga tentang keberadaan korban.
Kemudian ,suatu hari para tetangga mulai terganggu dengan aroma tidak enak yang berasal dari sekitaran tanah belakang kediaman korban.
Dari temuan tersebut,warga bersama pihak berwajib(Polisi) melakukan pencarian, kemudian menemukan bungkusan yang ternyatabada bagian-bagian badan orang yg sudah terpotong-potong," kata Kapolres Lahat, AKBP Novi.
Tragedi ini bukanlah kasus tunggal; ia merupakan puncak gunung es dari rentetan kekerasan yang berakar pada masalah yang sama. Fenomena ini memaksa kita bertanya: mengapa hubungan fitrah antara anak dan ibu bisa hancur sehancur-hancurnya demi angka-angka di layar ponsel?(MetroTV,9/4/2026)
Akar Masalah: Sekularisme dan Ekonomi Kapitalistik
Secara mendalam, perilaku brutal ini tidak lahir di ruang hampa. Ada sistem yang membentuk pola pikir pelaku.
Pertama, dominasi pemahaman Sekularisme telah menggeser standar berperilaku manusia. Saat agama dipisahkan dari kehidupan, orientasi hidup hanya tertuju pada kepuasan materi dan azas manfaat. Ketika uang dianggap sebagai puncak kebahagiaan, peringatan Allah SWT dalam Al-Qur'an pun terabaikan.
Padahal Allah SWT telah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90).
Kedua, diterapkannya sistem Ekonomi Kapitalisme menciptakan kesenjangan sosial yang menganga. Kebutuhan dasar hidup yang semakin mahal membuat rakyat kecil terhimpit. Dalam kondisi depresi ini, judi online menawarkan "jalan pintas" fatamorgana, padahal ia adalah jerat setan untuk menimbulkan permusuhan dan kerusakan.
Ketiga, kita melihat kegagalan negara dalam berperan sebagai pelindung (junnah). Regulasi yang reaktif dan sanksi yang lemah tidak memberikan efek jera, sehingga nyawa manusia seolah kehilangan harganya. Padahal, Islam sangat memuliakan nyawa, sebagaimana firman-Nya:
"...Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia..." (QS. Al-Ma'idah: 32)
Islam sebagai Solusi Sistemis
Untuk mengakhiri mata rantai tragedi ini, diperlukan perubahan paradigma yang fundamental melalui konstruksi Islam:
Akidah sebagai Benteng: Islam menjadikan akidah sebagai asas. Standar perilaku adalah halal-haram, bukan materi. Dengan iman, individu memahami bahwa judi adalah perbuatan keji. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa durhaka kepada orang tua (uququl walidain) adalah salah satu dosa terbesar: "Maukah aku beritahukan sebesar-besarnya dosa besar? ... Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari)
Keadilan Ekonomi: Sistem ekonomi Islam memastikan kebutuhan dasar terpenuhi melalui pengelolaan kepemilikan umum oleh negara, sehingga rakyat tidak terdorong melakukan kriminalitas demi uang.
Peran Negara (Khilafah): Negara wajib hadir sebagai raa’in (pengatur) dan junnah (perisai). Judi diharamkan dan diberantas tuntas, bukan sekadar blokir parsial. Negara akan menjalankan fungsi menjaga agama, akal, dan nyawa rakyatnya.
Sanksi yang Menjerakan (Uqubat): Islam menerapkan sanksi tegas yang bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). Hukuman bagi pembunuh maupun pelaku judi dalam syariat akan menciptakan ketakutan bagi calon pelaku kriminal lainnya, sehingga memutus rantai kejahatan secara efektif. Sebagaimana peringatan-Nya bagi pembunuh: "Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya..." (QS. An-Nisa: 93)
Kesimpulan
Kasus di Lahat adalah alarm keras. Selama sekularisme dan kapitalisme menjadi nakhoda, kemanusiaan akan terus dikorbankan demi materi. Sudah saatnya kita kembali pada aturan yang memuliakan manusia dan menjaga nyawa, yakni sistem yang bersumber dari Sang Pencipta.


0 comments:
Posting Komentar