Oleh: Rosy Anna A.Md.M
(Penulis)
Klunting, suara ponsel berbunyi. [<KREDIT Rp.25.000.000,00 pada rek. 2 TB xxx999 tgl. 25/10/2026, 15:00:00 Jaga datamu agar aman transaksi hub 14000]. "Pesan masuk" Notifikasi gaji yang ditungu setiap bulan memberikan senyuman lebar dan mata berbinar. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja membuka aplikasi mobile banking untuk melakukan transaksi : membayar sewa rumah, tagihan listrik, tagihan air, dan kebutuhan bulanan yang harus segera ditunaikan.
Setelah kebutuhan pokok dan terpenting selesai, sebagian pekerja muda lainnya membuka market place keranjang belanja 99+ yang sudah terisi sebelumnya, check out skincare, fashion tas, baju, ikat rambut. Delivery order matcha, dubai chewy cookie, dan kopi kekinan. Memperpanjang langganan layanan musik digital, pergi ketempat yang banyak dibicarakan, menonton film dibioskop, sampai berburu tiket konser musik indo maupun mancanegara.
Hal semacam ini menjadi kebiasaan yang lumrah di media sosial masa kini, dengan beraneka macam istilah, mulai self reward, self love, little treat, atau healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan.
Namun, bagi Gen Z membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri, setelah bekerja selama sebulan penuh.
Survey Gen Z melalui Treads
Rismak7 : "Sebagai Gen Z gue setuju kalo kita suka spending duit ke self reward bukannya malah nabung. Self reward nya bisa dari nyobain makanan, travelling, nyoba-nyoba hal baru kaya gue akhir-akhir ini. Yaitu nyoba les renang di umur 23 tahun"
Kelsssoonn : "Prinsip Gen Z: nabung itu wajib, tapi checkout demi self reward itu juga wajib, dua-duanya sama pentingnya"
Beairinn_ : "Aku jadi khawatir sama GEN Z.
Trend hidup YOLO, self reward, dan liburan yang berlebihan... Lama-lama bukan healing, tapi bunuh diri finansial perlahan"
Kedewasaan Finansial Era Gen Z
Proporsi Gen Z yang masih tinggal bersama orang tua juga meningkat dan sempat mencapai titik tertinggi sejak masa Great Depression. Ini memberi gambaran bahwa yang sedang berubah bukan sekadar sikap generasi, tetapi kondisi yang mereka hadapi sejak awal memasuki dunia kerja.
Perubahan tersebut cukup terlihat pada hubungan antara pendapatan dan biaya hidup. Dalam satu dekade terakhir, harga kebutuhan dasar terutama perumahan bergerak lebih cepat dibandingkan kenaikan upah, khususnya bagi pekerja muda.
Di Indonesia. Upah minimum menunjukkan disparitas yang cukup lebar Rp 5,4 juta di Jakarta dan Rp 2,1 juta di Jawa Tengah namun angka ini kian kehilangan relevansinya terhadap biaya hidup riil. Di kota besar seperti Jakarta, kebutuhan dasar individu sudah mendekati Rp 7 juta per bulan, bahkan sebelum menyentuh komponen biaya tempat tinggal.
Dalam kondisi ini Ruang antara pendapatan dan kebutuhan primer sudah terlalu sempit.
Namun, jika hanya berhenti pada faktor eksternal, gambarnya belum lengkap. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu kedewasaan finansial atau financial maturity. Di Indonesia, tingkat literasi keuangan masih relatif rendah. Banyak individu belum memiliki perencanaan keuangan memadai, dan keputusan konsumsi sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial.
Pola konsumsi yang impulsif, dorongan untuk mengikuti tren, serta tekanan dari media sosial membuat pengeluaran sering kali tidak sejalan dengan kapasitas pendapatan. Dalam banyak kasus, gaji yang diperoleh tidak diarahkan untuk membangun stabilitas jangka panjang, tetapi lebih banyak digunakan untuk menopang gaya hidup tertentu. Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self-reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsumtif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis?
Buah Pahit Kapitalisme
Tekanan finansial yang menimpa Gen Z hari ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Kondisi ini merupakan buah pahit penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ini, yang hanya sebatas regulator yang memberikan ruang lebar kepada pemilik modal untuk menguasai berbagai sektor strategis. Sebagian besar sumber daya alam (SDA) yang sejatinya milik umat
Dalam kapitalisme, tenaga kerja diperlakukan hanya sebagai faktor produksi yang nilainya ditentukan mekanisme pasar. Saat jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada lapangan kerja, perusahaan menjadikannya alasan untuk tidak menaikkan upah. Upah hanya mengikuti standar hidup minimum, sehingga tidak akan mampu menutup biaya kebutuhan hidup.
Sudahlah upah stagnan, biaya hidup terus melonjak tinggi, harga hunian yang kian tidak terjangkau, serta kompetisi di dunia kerja yang makin kompetitif menciptakan kecemasan kolektif terhadap masa depan.
Selain itu, kapitalisme juga gagal menjamin kebutuhan pokok setiap warga negara karena hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek distribusi. Distribusi hanya dipandang sebagai aspek pelengkap, mengabaikan kewajiban negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Akibatnya, kemiskinan tidak pernah terselesaikan, Gen Z dibiarkan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya.
Terjebak Budaya Hedonis
Tekanan ekonomi diperparah oleh gaya hidup sekuler yang hedonis. Gen Z, yang lahir di era digital, setiap hari dibombardir algoritma media sosial yang menampilkan etalase kehidupan mewah dan potongan momen terbaik, yang tidak jarang dijadikan tolok ukur hidup normal. Standar artifisial ini menimbulkan desakan psikologis untuk menyamainya.
Negara Pengurus Rakyat
Dalam perspektif Islam, negara diberi amanah untuk mengurus rakyat serta menjamin kebutuhan dasar, baik kebutuhan pokok maupun kolektif. Negara hadir sebagai pengurus yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Rasulullah ï·º mengingatkan,“Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutup dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka dan kemiskinan mereka, Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).
Kepala negara adalah pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya. Rasulullah ï·º bersabda,
“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Paradigma Hidup yang Benar
Islam memberikan paradigma yang benar, yaitu Allah Taala menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah. Manusia yang hanya berorientasi pada kebahagiaan dunia akan merugi. Urusan hidupnya selalu gagal dan berantakan. Jika tampak berhasil, itu hanya sementara, tetapi akhirnya tetap sengsara di akhirat.
Islam Menutup Gaya Hidup Hedonis
Hedonisme berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan. Menurut KBBI, hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Orang yang bergaya hidup hedonis senantiasa menjadikan kesenangan sebagai prinsip perilaku sehari-hari.
Makna hidup seperti ini jelas bertolak belakang dengan Islam. Islam memandang dunia hanya sementara dan setiap amal akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Gen Z tidak akan terjamin kecuali kapitalisme dan sistem buatan manusia digantikan oleh sistem Islam.
Dalam ketiadaan Khilafah, penting adanya komunitas yang tepat agar Gen Z menggunakan masa muda untuk mengembalikan Islam dalam tatanan kehidupan, memperjuangkan islam dengan dakwah pemikiran, dan tidak ikut FOMO negatif demi menjaga diri.
Wallahualam bishawab


0 comments:
Posting Komentar